Cerita Sex Akibat Tidak Bisa Menahan Nafsu

116373 views
memek

Cerita Sex ini memang cukup gila jika di bayangkan. Cerita dan gambar yang disajikan diambil dari kisah nyata yang bersumber dari Google dan hanya bertujuan untuk menghibur pembaca. Baca selengkapnya kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot bergambar, cerita sex sedarah, cerita mesum, Cerita Sex Abg dan pastinya terbaru dan paling hot berikut ini

Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi.

cerita-sex-akibat-tidak-bisa-menahan-nafsu

Cerita Sex Akibat Tidak Bisa Menahan Nafsu

Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan. Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil angkot minimal 5 kali, itu juga dengan bantuan kendaraan roda dua yaitu ojeg.

Bagi ferdi sangat beruntung bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMK. Tapi lepas dari SMK kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan dihadapan kedua orang tuanya.

Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya. Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat ferdi bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu.

Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.

“ferdi..” sapa ibunya ketika ferdi sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota.

Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah ferdi untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua ferdi sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan ferdi sangat jarang sekali bertemu maka orang tua ferdi memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.

Oomnya yang bernama Budiman memang paling mapan dan kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari 4 keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha di bidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil. Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua ferdi sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua ferdi yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.

Menurut ibu ferdi, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak. Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah ferdi dua tahun dan ia masih SMK di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada di atas 50 tahun.

Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, ferdi langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah.

Belakangan diketahui namanya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.

“Selamat siang Pak,” Tegur ferdi kepada salah satu satpam yang ada dua orang.
“Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu,” jawab satpam yang bernama Asep.
“Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?”
“Bapak Budiman yang mana Dik,” tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur 20 tahunan.
“Anu Pak, apa ini PT. Rido,” tanya ferdi menyusul keraguan satpam.

Karena sebetulnya ferdi juga belum pernah tahu dimana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.

“Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini,” tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT. Rido dan siapa pemiliknya.
“Adik ini siapa,” tanya satpam kepada ferdi, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
“Saya ferdi Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang.”
“Keponakan,” tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.

Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri ferdi sambil memberikan selamat datang di kota Bandung.

“ferdi.. Apa masih ingat sama Bapak,” kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.

Mimik ferdi jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.

“Maaf Pak, ferdi Sudah lupa dengan Bapak,” kata ferdi sambil terus mengigat-ingat.

Pak Dadi terus menerangkan dirinya,

“Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika ferdi berumur kurang lebih 5 tahun.” ferdi jadi bingung, “Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itukan sudah bertahun-tahun.” Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman.

Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.

“Aduh Dik ferdi, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik ferdi karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik ferdi. Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu,” sambung Pak Dadi melihat ekspresi ferdi yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal.

Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,

“Jangan takut Dik ferdi pokoknya kamu tidak akan ada masalah,” tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semuanya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa di bidang apapun.

Mendengar itu ferdi menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan ferdi sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan ferdi yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati ferdi dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.

Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan ferdi dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat ferdi menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata. Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merk Mercy terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung.

Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat megah dan dijaga oleh satpam. Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya.

Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa ferdi. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya. Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan ferdi, sedangkan ferdi ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah.

Setelah Tante wena datang sambil tersenyum menyapa ferdi, Bi Enung pun meninggalkan ferdi sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk ferdi.

“Tante sudah menunggu dari tadi ferdi,” bisiknya sambil menggenggam tangan ferdi tanda mengucapkan selamat datang. “Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa”, lanjut Tante wena yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah.

Wajah Tante wena yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.

“Tante sudah tahu bahwa ferdi akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk.” Obrolan pun mengalir dengan penuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal.

Tante wena dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan ferdi. Gerakan-gerakan tubuh Tante wena yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan ferdi membuat ferdi salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala ferdi pusing tujuh keliling.

Meskipun Tante wena telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.

“Nah, itu vera,” kata Tante wena sambil membawa ferdi ke ruang tengah.

Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil tersenyum, Tante wena memperkenalkan ferdi kepada vera. Mendapat teman baru dalam rumah itu vera langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri.

“Nanti Kak ferdi tidurnya sama vera ya Kak.” Mendapat pertanyaan itu ferdi dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan ferdi.

Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik. Lalu Tante wena menerangkan kelakuan vera yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, ferdi hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran ferdi, ia sudah menaruh hati pada vera yang mempunyai wajah yang cantik dan putih bersih itu.

Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante wena, ferdi masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar vera. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante wena menempati kamar yang paling depan sedangkan ferdi memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar vera berhadapan dengan kamar ferdi. Setelah membuka baju yang penuh keringat, ferdi melihat-lihat pemandangan belakang rumah.

Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikaruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.

Hari-hari selanjutnya ferdi semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante wena Yang ramah dan seksi, juga kelakuan vera yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kontol ferdi berdiri. ferdi semakin tahu tentang keadaan Tante wena yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante wena dengan mesranya menggandeng ferdi, tapi ferdi tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang.

Tapi yang membuat kaget ferdi ketika di dalam mobil, Tante wena mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu ferdi kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante wena menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya. ferdi tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghayalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kontol Tante wena.

Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante wena dengan bewena tiduran di atas paha ferdi sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru ferdi yang mengetahuinya. Sambil bercerita, lipatan paha Tante wena yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya merosot ke bawah. ferdi dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar memek Tante wena yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. ferdi menelan ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi.

Ketika ferdi akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta ferdi untuk terus merabanya.

ferdi menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, “Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante,” Tante wena hanya berkata,

“ferdi, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa ferdi tidak kasihan sama Tante.” Tangan Tante wena dengan bewena membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar.

Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. Melihat ferdi yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante wena memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat ferdi jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu. Kedekatan ferdi dengan vera semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit vera selalu meminta bantuan ferdi. Pada saat itu vera mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar ferdi.

Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante wena yang menolak melakukan itu. ferdi keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupinya. Dengan jelas vera melihat batang kontol ferdi yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, vera membalikkan badannya.

ferdi hanya tersenyum sambil berkata,

“Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda ferdi sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam.

Kebiasaan itu dilakukan agar batang kontolnya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas. ferdi bergerak mendekati vera dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil.

“Ahh, geli Kak ferdi.. Kak ferdi sudah pake celana yah,” tanya vera.
“Belum,” jawab ferdi menggoda vera.
“Ahh, cepet dong pake celananya. vera mau minta tolong Kak ferdi mengerjakan PR,” rengek vera sambil tangan kirinya meraba belakang ferdi.

Melihat rabaan itu, ferdi segaja memberikan batang kontolnya untuk diraba. vera hanya meraba-raba sambil berkata,

“Ini apa Kak, kok kenyal.” Mendapat rabaan itu batang kontol ferdi semakin menegang dan dalam pikirannya kalau dengan vera aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tanteku digarap olehku.

Rabaan vera berhenti ketika batang kontol ferdi sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. ferdi kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kontolnya yang sudah menegang. Tangan yang tadi digunakan meraba batang kontol ferdi kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan vera membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat ferdi sudah memakai celana pendek.

“Nah, gitu dong pake celana,” kata vera sambil mencubit dada ferdi yang menempel di susu kecil vera.
“Udah dong meluknya,” rintih vera sambil memberikan buku Matematikanya. Saling memeluk antara ferdi dan vera sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika ferdi merasakan kenikmatan dalam memeluk vera, vera tidak merasakan apa-apa mungkin karena vera masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor.

ferdi langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi ferdi segaja memilih itu karena vera sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kontol ferdi terasa hangat dibuatnya. Dan memang seperti dugaan ferdi, vera tiduran di dada ferdi. Pada saat itu vera menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. vera tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama ferdi.

Sambil mengerjakan PR, pikiran ferdi melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada vera bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada vera. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh ferdi dan vera. PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, vera terseyum gembira. Terlihat dengan jelas susu vera yang kecil. Pikiran ferdi meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat.

Ketegangan ferdi semakin menjadi ketika batang kontolnya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul vera yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi ferdi menerangkan tersebut ada di bawah vera dan pinggul vera sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif. Gerakan badan vera yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kontolnya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih.

Hal itu membuat nafas ferdi naik turun. vera tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kontol ferdi, malah vera semakin terus bermanja-manja dengan ferdi yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran ferdi semakin kalang kabut ketika vera menggerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kontolnya semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar ferdi meraba gundukan kontol vera yang terbungkus oleh CD putih.

Bukit kontol vera yang hangat membuat ferdi semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.

“Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.” ferdi membalikkan badannya sehingga bukit kontol vera tepat menempel di batang kontol ferdi.

Dalam keadaan itu vera hanya mendekap ferdi sambil terus berkata,

“Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”
“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata ferdi sambil terus merapatkan batang kontolnya ke bukit kontol vera yang masih terbungkus CD warna Putih.

Pantat vera terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat ferdi semakin panas dingin dibuatnya. vera hanya bertanya apa syaratnya kata vera sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya ferdi. Dalam posisi seperti itu batang kontol ferdi yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kontol vera yang terasa hangat. ferdi tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut vera.

vera hanya diam dan terus menghidar ciuman itu.

“Kaak.. apa dong syaratnya”, kata vera manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kontolnya terus menyentuh-nyentuh batang kontol ferdi.

Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang vera tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun.

“Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.” Mendengar itu vera hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus push-up 1000 kali.

Konsentrasi ferdi dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kontolnya agar tetap berada di bawah bukit kontol vera yang sering terlepas karena vera yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. vera terus mendekap badan ferdi sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha ferdi. Setelah selesai mengerjakan PR-nya, ferdi menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kontol vera. ferdi semakin tidak tahan dengan kedaan itu dan langsung meraba-raba pantat vera.

Ketika ferdi akan meraba susu vera. vera bangkit dan terus melihat ke wajah ferdi, sambil berkata,

“PR-nya sudah Kaak.. ferdi,” sambil menguap.

Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan ferdi, vera langsung memeluk ferdi erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh ferdi begitu saja, ferdi langsung memeluk vera berguling-guling sehingga vera sekarang berada di bawah ferdi.

Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu vera berkata,

“Masa Kakak meluk vera nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan ferdi lontarkan agar vera tetap mau dipeluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kontol ferdi bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu vera berhasil lepas dari pelukan ferdi sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.
“Aduh, Gila si vera masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman ferdi dalam hati sambil terus memegang batang kontolnya.

ferdi berusaha menetralisir batang kontolnya agar tidak terlalu tegang.

“Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan vera cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.” ferdi memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya.

Itulah pola pikir ferdi yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa vera. Ketegangan batang kontol ferdi terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan ferdi keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante wena masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante wena yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya.

Keadaan itu terlihat karena Tante wena duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan. Ketegangan ferdi semakin memuncak melihat keindahan tubuh Tante wena yang sangat seksi dan mulus itu.

“Kamu kenapa belum tidur Ari,” kata Tante wena sambil menuangkan segelas air susu untuk ferdi.
“Anu Tante, tidak bisa tidur,” balas ferdi dengan gugup.

Memang Tante wena yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan ferdi, ia tidak peduli dengan keberadaan Ari malah ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan ferdi yang sudah sangat terangsang.

“Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap ferdi.”
“Tidak apa-apa Tante, ferdi mengerti tentang hal itu,” jawab ferdi sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah di luar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan vera yang membuat batang kontolnya semakin menegang tidak tentu arah.
“Oom kemana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya ferdi mengisi perbincangan.
“Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante wena.

Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante wena, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya. ferdi dan Tante wena duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh ferdi, Tante wena membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kontolnya. Mata ferdi melongo tidak percaya.

Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante wena, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante wena tidak menggunakan celana dalam. kontolnya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante wena terus menggaruk-garuk di seputar kontolnya itu karena merasa ada yang gatal.

Melihat itu ferdi semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kontolnya yang semakin menegang.

“Kamu kenapa ferdi,” tanya Tante wena yang melihat wajah ferdi keluar keringat dingin.
“Nggak Tante, ferdi cuma mungkin capek,” balas ferdi sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante wena.

Setelah merasa agak baikan di sekitar kontolnya, Tante wena segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kontolnya yang merekah. Melihat ferdi semakin menegang, Tante wena tersenyum dan mempersilakan ferdi untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

Ketegangan ferdi semakin memuncak dan ferdi tidak bewena kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu.

“Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.” Melihat ferdi yang sangat tegang itu Tante wena hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.

Sebelum sampai ke paviliun belakang ferdi jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak sengaja ia mendengar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. ferdi terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. ferdi mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah ferdi dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.

Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, ferdi melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kontol Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki ferdi. Astri terus mengulum batang kontol Pak Dadi.

Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah merosot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kontol Pak Dadi semakin mesra dikulum oleh Astri. Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri.

Astri yang masih melekat di badan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kontol Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi. Sebelum memasukkan batang kontolnya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kontol Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kontol suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.

Dengan perlahan batang kontol Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kontol Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya. Memang beradunya batang kontol Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya.

Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh ferdi semakin panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante wena memainkan kontol ferdi yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kontolnya.

“Tante, kapan Tante datang”, suara ferdi perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi.

Tangan Tante wena terus menggandeng ferdi menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kontol ferdi yang sudah menegang sejak tadi. Sesampainya di ruang tengah, ferdi duduk di tempat yang tadi diduduki Tante wena, sementara Tante wena tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha ferdi dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kontol ferdi yang sudah menegang.

“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante wena memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada di antara kedua selangkangan ferdi terus digesek-gesek ke batang kontol ferdi. “Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante wena,
“Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kontol ferdi.

ferdi semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada di luar batas kemanusiaan.

“Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan ferdi, Tante wena malah tersenyum,
“Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.” Gila, dalam pikiranku mana mungkin aku memberitahu Oomku.

Gerakan kepala Tante wena semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kontol Tante wena terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kontol gadis seumur vera. ferdi sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante wena. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.

Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kontol ferdi terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lembut dan putih itu. Melihat Keberhasilannya itu Tante wena membalikkan badan dan sekarang Tante wena telungkup di atas sofa dengan kontolnya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.

Tangan Tante wena terus memainkan batang kontol ferdi dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.

“Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante wena mesra sambil terus memainkan batang kejantanan ferdi dengan kedua tangannya.
“Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apapun Riee,” bisik Tante wena dengan nafas yang berat.

Mendengar ejekan itu hati ferdi semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi. Mulut Tante wena yang merekah telah mengulum batang kontol ferdi dengan liarnya dan terlihat badan Tante wena seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt.

“Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini.. ayo dong gerakin tanganmu.” Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali.

Sehingga tangan ferdi semakin bewena menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kontol Ari menegang. ferdi mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Tante wena terus semakin menggila dan terus mengulum kepunyaan ferdi dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante wena yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kontol ferdi. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya ferdi memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi ferdi dan tantenya seperti huruf T. Tangan ferdi semakin bewena mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas.

Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kontol tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.

“Ahkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kontolnya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya.

Ketika ia merasakan akan orgasme.

“ferdi.. Tante sudah tidak tahan lagi nich..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kontolnya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kontol ferdi sehingga ferdi dibuatnya tidak berdaya.
“Aduh. aduh.. Tante nikmat sekalii..” erang tantenya semakin menjadi-jadi.

Hampir 3 kali Tante wena merintih sambil mengerang.

“Aduuh Riee.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante wena sambil terus menggesek-gesekkan bibir kontolnya ke bantal kecil itu.

ferdi meraba kontol tantenya, ternyata kontol Tante wena sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

“ferdie.. nah itu terus Riee.. terus..” erang Tante wena sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kontol ferdi. “Kamu kok kuat sekali Riee,” bisik tante wena dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kontol ferdi.

Tante wena setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat ferdi keluar sperma.

ferdi berguman,

“Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”

Melihat batang kontol ferdi yang masih tegak Tante wena semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju ferdi yang masih melekat di badannya.

“Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante wena sambil membuka baju ferdi perlahan namun pasti.

Setelah baju ferdi terbuka, Tante wena membuka juga celana pendek ferdi agar posisinya tidak terganggu. Lalu Tante wena membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan ferdi. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat trampil dalam memainkan batang kontol laki-laki.

Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kontol ferdi sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kontol ferdi dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah. Dengan bantuan susunya yang besar, Tante wena menggesek-gesek susunya di belahan batang kontol ferdi.

Dengan keadaan itu ferdi mengerang kuat sambil berkata,

“Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan ferdi, Tante wena tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya.

Melihat ferdi yang akan keluar, Tante wena dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kontol dengan sangat liar. Sehingga warna batang kontol ferdi menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kontolnya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. ferdi menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata,

“Terus Tante.. terus Tante..”, Dan ferdi pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kontolnya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante wena yang merekah.

Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante wena kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kontol ferdi yang membuat ferdi meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kontol itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil. Melihat itu Tante wena semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kontol ferdi sampai keluar bunyi slurp.., slurp.., akibat sedotannya.

Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kontol ferdi, lalu Tante wena kembali mengulum batang kejantanan ferdi dengan mulutnya yang seksi. Melihat batang kontol ferdi yang masih memberikan perlawanan, Tante wena bangkit sambil berkata,

“Gila kamu.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir 4 kali kamu masih menantangnya.” Mendengar tantangan itu, ferdi hanya tersenyum saja dan terlihat Tante wena mendekat ke hadapan ferdi sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kontol ferdi.

Sebelum memasukkan batang kontol ferdi ke liang kewanitaannya, Tante wena terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan ferdi pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante wena semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kontol ferdi sekarang tergeser ke belakang sehingga batang kontol ferdi tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

Mendapat perlakuan itu ferdi mengerang kenikmatan.

“Aduuh Tante..” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama.
“Clepp..” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante wena mendorongnya masuk ke lembah surganya.

Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi ferdi bergetar. Mata Tante wena dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante wena telah berhasil menelan semua batang kontol ferdi. Tante wena pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

“ferdie..” rintihan Tante wena semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kontol ferdi.

Tante wena diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kontol ferdi yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.

“Riee, Tante sudah tidak kuat lagi.. Sayang..” desah Tante wena sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan.

Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan permainan itu ferdi mendesir,

“Aduh Tante.. terus Tante..” mendengar itu Tante wena terus menggeser-geserkan pantatnya.

Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kontol ferdi dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kontol ferdi dengan liang senggama Tante wena. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kontol ferdi jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman. Goyangan pantatnya semakin liar dan ferdi mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu.

Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante wena dengan paha ferdi menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan,

“Prut.. prat.. pret..” Tangan ferdi merangkul tantenya dengan erat.

Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante wena mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kontol ferdi.

Tante wena mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante wena berkata di dekat telinga ferdi.

“ferdie..” suara Tante wena bergetar,
“Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaah”.
“Iya Tante..” jawab ferdi.

Selang beberapa menit ferdi merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui,

“Kamu mau keluar yaa.” ferdi merangkul Tante wena dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante wena rangkulannya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kontol ferdi.

Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara ferdi keluar dengan keras,

“Tantee.. Tantee..” dan begitu juga Tante wena mengerang keras,
“Riee..”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kontol dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kontol ferdi masuk ke dalam liang senggama Tante wena.

Akhirnya ferdi dan Tante wena diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante wena. Masih dalam posisi Tante wena duduk di pangkuan ferdi. Tante wena tersenyum,

“Kamu hebat ferdi seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”
“Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante wena.

ferdi hanya tersenyum digoda begitu. Tante wena lalu mencium kening ferdi. Kurang lebih lima menit batang kontol ferdi yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante wena, lalu Tante wena bangkit sambil melihat batang kontol ferdi. Melihat batang kontol ferdi yang mengecil, Tante wena tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kontolnya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kontol ferdi tidak berdiri lagi.

Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante wena meraba-raba batang kontol ferdi dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kontol ferdi tidak mau berdiri lagi.

“Aduh untung batang kontolmu Riee.. tidak hidup lagi,” bisik Tante wena mesra sambil berdiri di hadapan ferdi, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Riee” lanjutnya sambil tersenyum dan duduk di sebelah ferdi.

Sesudah Tante wena dan ferdi berpagutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing. Pagi-pagi sekali ferdi bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya ferdi jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu ferdi tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan di waktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.

Lalu ferdi pun berjalan menuju kolam, tidak dibayangkan sebelumnya ternyata Tante wena ada di kolam sedang berenang. Tante wena mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan ferdi. Tante wena mengajaknya berenang.

ferdi hanya tersenyum dan berkata,

“Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante wena hanya tersenyum, soalnya Tante wena mengetahui ferdi tidak menggunakan celana renang.
“Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante wena.

Tantenya yang terus meminta ferdi untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru. Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kontol ferdi yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh ferdi sambil mendekati Tante wena, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah ferdi. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante wena menjadi kejaran ferdi yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante wena dapat juga tertangkap.

ferdi langsung memeluknya erat-erat, pelukan ferdi membuat Tante wena tidak dapat lagi menghindar.

“Udah akh ferdi.. Tante capek,” seru mesra Tante wena sambil membalikkan badannya.

ferdi dan Tante wena masih berada di dalam genangan kolam renang.

“Kamu tidak kuliah Riee,” tanya Tante wena.
“Tidak,” jawab ferdi pendek sambil meraba bukit kontol Tante wena.

Terkena rabaan itu Tante wena malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi ferdi. Mendapatkan perlakuan itu ferdi menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya.

Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga.

“Sudah ah.. Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante wena sambil sedikit menjauh dari ferdi.

Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante wena tertawa geli melihat ferdi yang celana dalamnya telah merosot di antara kedua kakinya dengan batang kontolnya yang sudah bangkit dari tidurnya.

“Kamu tidak sadar ferdi, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu ferdi langsung mendekati Tante wena sambil mendekapnya.

Tante wena hanya tersenyum.

“Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata
Tante wena sambil meraba batang kontol ferdi yang sudah menegang kembali.

Mendengar itu ferdi hanya melongo kaget.

“Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata ferdi sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante wena yang berwarna merah.

Mendapat perlakuan itu Tante wena hanya diam dan ia terus mencium ferdi sambiil berkata,

“Iyaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.” Tante wena membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul ferdi.

Batang kontol ferdi langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante wena yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak ferdi. Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante wena telah melahap semua batang kontol ferdi dan dirasakannya batang kontol ferdi sudah menegang. Tante wena menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong ferdi sambil pergi dan tersenyum manis meninggalkan ferdi yang tampak kebingungan dengan batang kontolnya yang sedang menegang.

Mendapat perlakuan itu ferdi menjadi tambah bernafsu kepada Tante wena, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu ferdi langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya. Setelah di kamar, ferdi langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung ferdi teringat akan keberadaan kamar vera.

ferdi lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi.

“vera.. vera.. vera..” teriak ferdi sambil mengetuk pintu kamar vera.
“Masuk Kak ferdie, tidak dikunci.” balas vera dari dalam kamar.

Didapatinya ternyata vera masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kontolnya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan ferdi dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

“Ada apa Kak ferdi,” kata vera sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kontolnya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan ferdi.
“Anu vera.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi ferdi airnya tidak keluar.” Memang vera melihat dengan jelas bahwa badan ferdi dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan vera bukannya badan tapi vera memperhatikan di antara selangkangannya yang kelihatan mencuat.

Iseng-iseng vera menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat ferdi yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan ferdi pun langsung memperlihatkannya sambil memegang batang kontolnya,

“Ini namanya penis.. Sayang,” kata ferdi yang langsung menuju kamar mandi karena melihat vera menutup wajahnya dengan selimut.

Melihat batang kontol ferdi yang sedang menegang itu vera membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh vera yang membayangkan batang kontol ferdi dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata vera terus memandang ferdi yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kontolnya. Akhirnya karena vera sudah di puncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya. Dengan bewenanya vera pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama ferdi.

Melihat kedatangan vera ke kamar mandi, ferdi hanya tersenyum.

“Kamu juga mau mandi Yun,” kata ferdi sambil mencubit pinggang vera

vera yang sudah di puncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kontol ferdi yang masih mengeras.

“Kak boleh nggak vera mengelus-elus barang itu,” bisik vera sambil menunjuknya dengan jari manisnya.

Mendengar permintaan itu ferdi langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya. Dalam pikiran ferdi, vera sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi ferdi langsung mendekatkan batang kontolnya ke tangan vera dan menuntun cara mengelus-elusnya.

Tangan vera yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat ferdi kesakitan.

“Aduh.. jangan keras-keras dong vera, nanti batang kontolnya patah.” Mendengar itu vera menjadi sedikit kaget lalu
Ari membantunya untuk memainkan batang kontolnya dengan lembut.

Tangan vera dituntunnya untuk meraba batang kontol ferdi dengan halus lalu batang kontol ferdi didekatkan ke wajah vera agar mengulumnya. vera hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu ferdi memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice cream, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut vera langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kontol ferdi lalu vera memasukkan semua batang kontol ferdi ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik vera terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.

Setelah sedikit tenang, vera mengulum lagi batang kontol ferdi tanpa diperintah sambil pinggul vera bergoyang menyentuh kaki ferdi. Melihat kejadian itu ferdi akhirnya menghentikan kuluman vera dan langsung mengangkat vera dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat vera dipeluk oleh ferdi dan vera pun membalas pelukan ferdi.

Bibir vera yang polos tanpa lipstik dicium ferdi dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu vera untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh ferdi. Bila ferdi menjulurkan lidahnya maka vera pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut ferdi. Dengan permainan itu vera sangat menikmatinya apalagi ferdi yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman. Kecupan vera kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas.

“Pek.. pek..” suara bibir vera mengeluarkan suara yang membuat ferdi semakin terangsang. Mendengar suara itu ferdi tersenyum sambil terus memagutnya.

Tangan ferdi dengan trampil telah membuka daster putih yang dipakai vera. Dengan gerakan yang sangat halus, ferdi menuntun vera agar duduk di pinggir ranjang dan vera pun mengetahui keinginan ferdi itu. Bibir vera yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut ferdi dengan posisi vera tertindih oleh ferdi. Tangan vera terus merangkul ferdi sambil bukit kontolnya menggesek-gesekkan sekenanya. Lalu ferdi membalikkan tubuh vera sehingga kini vera berada di atas tubuh ferdi, dengan perlahan tangan ferdi membuka BH putih yang masih melekat di tubuh vera.

Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan vera, ferdi pun membuka CD putih yang membungkus bukit kontol vera dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan panjang keluar dari mulut vera.

“Auu..” sambil mendekap ferdi keras-keras.

Melihat itu ferdi semakin bersemangat. Setelah ferdi berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan vera, terlihat vera sedikit tenang iapun kembali membalikkan vera sehingga ia sekarang berada di atas tubuh vera. ferdi menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kontol vera yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kontol vera yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil.

Kaki vera direnggangkan oleh ferdi. Pagutan ferdi berganti pada bibir kecil kepunyaan vera. Pantat vera terangkat dengan sendirinya ketika bibir ferdi mengulum bukit kontol kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kontol perawan membuat batang kontol ferdi semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi ferdi kasihan melihat vera karena kontolnya belum juga merekah. Jilatan bibir ferdi yang mengenai klitoris vera membuat vera menjepit wajah ferdi. Semburan panas keluar dari bibir bukit kontol vera. vera hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkannya.

Lalu ferdi merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kontolnya yang sudah terlalu lama menegang. ferdi menarik tubuh vera agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki vera menyentuh lantai dan ferdi berdiri di antara kedua paha vera. Melihat kondisi tubuh vera yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kontol vera yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat ferdi menahan nafas. ferdi berdiri, dan batang kontolnya yang besar itu diarahkan ke bukit kontol vera. Melihat itu vera sedikit kaget dan merasa takut vera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Melihat gejala itu ferdi hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha vera sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kontolnya di bibir kontol vera. Sambil menggesek-gesek batang kontol, ferdi kembali mendekap vera sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat ferdi yang membuka tangannya, vera langsung merangkulnya dan mencium bibir ferdi.

Pagutan pun kembali terjadi, bibir vera dengan lahapnya terus memagut bibir ferdi. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut vera.

“Aduhh.. Kaak..” erang vera sambil merangkul tubuh ferdi dengan keras.

ferdi meraba-raba bukit kontol vera dengan batang kontolnya setelah yakin akan lubang kontol vera, ferdi mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan ferdi masuk ke liang senggama vera. vera mengerang kesakitan,

“Kak.. aduh sakit, Kak..” Mendengar rintihan itu, ferdi membiarkan kepala kontolnya ada di dalam liang senggama vera dan ferdi terus memberikan pagutannya.

Kuluman bibir vera dan ferdi pun berjalan lagi. Dada ferdi yang besar terus digesek-gesekkan ke susu vera yang sudah mengeras. vera yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat. Kepala kontol ferdi yang besar baru masuk ke liang kewanitaan vera, tapi jepitan liang kontol vera begitu keras dirasakan oleh batang kontol ferdi.

Sambil mencium telinga kiri vera, ferdi kembali berusaha memasukkan batang kontolnya ke liang senggama vera.

“Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu ferdi berkata kepada vera.
“Kamu sakit vera,” bisik ferdi di telinga vera.
“Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..” Mendengar penjelasan itu, ferdi terus memasukkan batang kontolnya sehingga sekarang kepala kontolnya sudah masuk semua ke dalam liang senggama vera.

Batang kontol ferdi sudah masuk ke liang senggama vera hampir setengahnya. Batang kontolnya sudah ditelan oleh liang kontol vera, kaki vera semakin diangkat dan tertumpang di punggung ferdi. Tiba-tiba tubuh vera bergetar sambil merangkul ferdi dengan kuat.

“Aduhh..” dan cairan hangat keluar dari bibir kontol vera, ferdi dapat merasakan hal itu melalui kepala kontolnya yang tertancap di bukit kontol vera.

Lipatan paha vera telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua. Mendapat guyuran air di dalam bukit kontol itu, ferdi lalu memasukkan semua batang kontolnya ke dalam lubang senggama vera. Dengan satu kali hentakan.

“Preet..” vera melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan ferdi.
“Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil vera setelah seluruh batang kejantanan ferdi berada di dalam lembah kenikmatan vera.
“Kak, Badan vera sesak, sulit bernafas,” kata vera sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.

Mendengar itu lalu ferdi membalikkan tubuh vera agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu vera seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh ferdi sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya. vera dan ferdi terdiam kurang lebih lima menit.

“vera, sekarang bagaimana badanmu,” kata ferdi yang melihat vera sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan.
“Udah agak enakan Kak,” balas vera sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Mendapatkan serangan itu ferdi langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan ferdi dari atas ke bawah. Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan vera dan ferdi. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut vera tetap mengaduh,

“Aduhh..” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya.

Tanpa disadari sebelumnya oleh ferdi. vera dengan ganasnya menggoyang-goyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat ferdi kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kontol vera yang semakin menjepit seperti tang yang sedang menjepit paku agar paku itu putus. Beberapa menit kemudian ferdi memeluk badan vera dengan eratnya dan batang kontolnya berusaha ditekan ke atas membuat pantat vera terangkat. Semburan panaspun masuk ke bukit kontol vera yang kecil itu.

Mendapat semburan panas yang sangat kencang, vera mendesis kenikmatan sambil mengerang,

“Aduhh.. aduh.. Kak..” Selang beberapa menit ferdi diam sambil memeluk vera yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat.

Setelah badannya merasa sudah agak baik, ferdi membalikkan tubuh vera sehingga sekarang tubuh vera berada di bawah ferdi. Batang kontol ferdi masih menancap keras di lembah kontol vera meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki vera diangkat oleh ferdi dan disilangkan di pinggul. ferdi mengeluarkan batang kontolnya yang ada di dalam liang senggama vera.

Mendapat hal itu mata vera tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kontolnya ke dalam liang senggama vera, turun naik batang kontol ferdi di dalam liang perawan vera membuat vera beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kontol vera yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya ferdi mengerang-erang sambil memeluk tubuh vera dan vera pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya. ferdi mendekap vera sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kontol ferdi dan vera pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya.

Kurang lebih 5 menit, ferdi memeluk vera tanpa adanya gerakan begitu juga vera hanya memeluk ferdi. Dirasakan oleh ferdi bahwa batang kontolnya mengecil di dalam liang kontol vera dan setelah merasa batang kontolnya betul-betul mengecil ferdi menjatuhkan tubuhnya di samping vera. ferdi mencium kening vera. vera membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya ferdi bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki vera.

Mendengar itu ferdi hanya tersenyum karena memang selama ini ferdi mendambakan istri seperti vera ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan vera maka ia akan mendapatkan segalanya. ferdi mengucapkan selamat bobo kepada vera yang langsung tertidur kecapaian dan ferdi langsung keluar dari kamar vera setelah ferdi menggunakan pakaiannya kembali. ferdi masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya.

Tante wena dibuat kaget karena ferdi langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya.

“Tante sudah pulang,” tanya ferdi. Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya.

Lalu ferdi membuka kulkas untuk mencari air putih.

“Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante wena sambil tersenyum.
“Bagaimana sekarang ferdi burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, ferdi langsung kaget.
“Ah Tante, mau cari sangkar dimana,” jawab ferdi mengelak.
“ferdi kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama vera dan Tante.” Mendengar itu, ferdi langsung diam dan ia akan menikahi vera seperti yang dijanjikanya.

Mendengar hal itu Tante wena tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada ferdi sambil meraba batang kontol ferdi yang sudah tidak kuat untuk berdiri. Melihat batang kontol ferdi yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante wena tersenyum.

“Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa.. Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante wena.
“Ahh nggak Tante, biasa saja kok.” Tante wena meninggalkan ferdi, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya.

Akhirnya pernikahan vera dengan ferdi dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena vera masih di bawah umur. TAMAT

Tags: #ABG SMA #Anak Sekolah #Cerita Sedarah #Cerita Sex 2016 #Pecah Perawan #Sex ABG #Sex Remaja #Tante Binal #Tante Girang #XXX

Download ITIL Online Review